English RSS HTML Peta Situs
Pentas Seni Pluralisme
Kamis, 20 Agustus 09 | 881 kali dibaca | kksp.or.id | kirim | cetak
Medan – Indonesia merupakan Negara yang penuh kemajemukkan dari agama, suku, seni budaya, adat istiadat dan lain sebagainya. Perbedaan tersebut dapat dilarutkan dalam satu dasar negara Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika, yaitu berbeda-beda namun tetap satu. Hidup berdampingan satu sama lain dengan saling menghormati menciptakan kehidupan yang tenang, damai, dan tentram. Namun, beberapa tahun belakang ini selalu saja dijadikan alasan sebagian orang yang tidak bertanggung jawab untuk memunculkan konflik, untuk memecah belah kerukunan yang sudah terbentuk. Salah satu keragaman yang ada di Indonesia adalah seni budaya. Keragaman seni budaya di Indonesia biasanya terjadi karena adanya akulturasi budaya antara seni budaya asli Indonesia dengan seni budaya yang masuk ke Indonesia. Percampuran antara dua seni budaya yang berbeda tersebut memunculkan keunikan tersendiri dalam perkembangan seni budaya di Indonesia. Selain itu juga, seni budaya dapat dijadikan media pemersatu bangsa yang majemuk seperti Indonesia. Di Medan misalnya terdapat beragam seni dan budaya yang berkembang dari bermacam – macam suku dan etnik, misalnya saja, seni budaya Melayu, Jawa, Batak, Padang, Karo, Tionghoa, dan Tamil yang keseluruhannya berkembang menjadi seni budaya Kota Medan. Didasari kondisi itulah, Komtemplur (Komite Pemuda Pluralisme) merancang sebuah kegiatan yang dapat mempersatukan seluruh elemen masyarakat melalui media seni dan budaya. Media tersebut bernama Panggung Seni Pluralisme. Komtemplur merupakan sekumpulan generasi muda Kota Medan yang peduli terhadap seni dan budaya. merancang sebuah kegiatan Panggung seni pluralisme merupakan sebuah gagasan dimana semua seni dan budaya yang ada dan berkembang di Kota medan dapat mengekspresikan kreatifitasnya dalam satu panggung pertunjukkan. Sehingga apapun seni dan budaya tersebut, dapat menyatu dan melebur bersama tanpa melihat perbedaan yang ada. Panggung Seni Pluralisme dilakukan di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara pada hari minggu, 15 Agustus 2009. Di oleh beberapa kelompok seni musik dan teater seperti dari the baMBoes “komunitas musik sampah” yang konsern terhadap tema sosial. Menggunakan alat-alat musik dari benda-benda yang tidak berguna lagi. Ada juga Cikrip – Kelompok musik dari Aceh Timur-IDI, Tarian persembahan Anak-anak Muda Tamfaran (Kelompok Muda yang Menentang Perdagangan Anak), dan kelompok teater dari ITM (Institut Tekhnologi Medan). Di puncak acara panggung seni pluralisme, semua pengisi acara melakukan doa bersama untuk keberlanjutan kegiatan ini. Pemotongan kue juga untuk memperingati hari jadi ke 14 kelompok musik the baMBoes. Kelompok musik anak jalanan ini berdiri pada 23 Juli 1995. (ley)
Komentar
armansyahputra [ Kamis, 07 Januari 10 ]
kalau bisa Komplentplur juga melakukan road show seni budaya. misalnya ke aceh Barat. Jawa dll.

Ingin Berlangganan Berita dan Artikel

Komentar
Nama
Email
Komentar
 
Verifikasi
Beri komentar pada artikel ini. Terima kasih