Deli Serdang - Kasus-kasus perdagangan anak yang masih kerap terjadi di wilayah Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut) perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak. Beberapa langkah penangaan yang sudah dilakukan, di antaranya remedial course atau pendidikan tambahan yang dilakukan Yayasan KKSP (Pusat Pendidikan dan Informasi Hak Anak) terhadap 500 pelajar SMP di Kecamatan Percut Sei Tuan.
Sekretaris Yayasan KKSP Maman Natawijaya menyatakan, hingga saat ini masalah trafficking atau perdagangan anak masih menjadi fenomena gunung es. Data pasti korban secara aktual tidak pernah didapat, tetapi persoalannya masih sangat besar.
“Terlepas dari kemajuan-kemajuan yang telah dicapai Indonesia dalam hal kerangka hukum untuk melindungi anak-anak dari perdagangan manusia, kenyataan di lapangan menunjukkan masih tingginya kasus-kasus perdagangan anak di Sumatera Utara. Ini masih jadi persoalan yang harus direnungi bersamaan dengan momen peringatan Hari Anak Nasional tahun ini,” kata Maman Natawijaya kepada wartawan di Deli Serdang, Minggu (25/7).
Untuk membantu menangani masalah ini, KKSP bekerjasama dengan ILO/IPEC (Program Internasional Penghapusan Pekerja Anak, Organisasi Perburuhan Internasional) membuat beberapa langkah aksi sebagai upaya pencegahan perdagangan anak untuk tujuan eksploitasi seksual.
“KKSP melihat bahwa dunia pendidikan menjadi salah satu sasaran strategis untuk melakukan aksi pencegahan ini. Skema yang dibangun dalam aksi ini dengan memberikan pendidikan Remedial Course kepada 500 pelajar SMP yang berada di Kecamatan Percut Sei Tuan,” kata Maman.
Pendidikan ini dilakukan untuk mengantisipasi meningginya tingkat anak-anak yang putus sekolah. Selama ini diketahui bahwa pemicu angka putus sekolah, selain ekonomi keluarga rendah, yang terbesar karena ketidakmampuan siswa dalam menerima pelajaran. Untuk mengantisipasi tingginya angka putus sekolah maka KKSP membuat program dan bekerjasama dengan sekolah untuk melakukan remedial course, yakni kursus tambahan terhadap beberapa mata pelajaran di sekolah yang mungkin sulit dipahami siswa.
Selain itu, KKSP juga membentuk radio sekolah, langkah ini dilakukan untuk melakukan kampanye tentang bahaya perdagangan anak untuk tujuan eksploitasi seksual kepada siswa. Informasi-informasi yang disampaikan tidak hanya tentang perdagangan anak tetapi juga seputar kegiatan siswa, informasi tentang pekerja anak, HIV/AIDS dan informasi BPTA lainnya yang berguna bagi para pelajar. Pengelolaannya diberikan kepada siswa. Mereka juga dilatih untuk menjadi seorang reporter dalam mencari berita serta dilatih menjadi seorang penyiar.
“Tetapi bukan berarti dengan mencegah 500 anak untuk tidak menjadi korban perdagangan, persoalan ini selesai. Tapi masih ada ribuan anak yang harus kita selamatkan agar tidak menjadi korban perdagangan anak untuk tujuan eksploitasi seksual,” kata Maman. (rde)